Sabtu, 23 Mei 2015

The Hellingr (Elia, Sang Pembawa Takdir)

"Kita tidak bisa membiarkannya mengambil Elia! Kita harus mencegahnya!"
"Aku tidak bisa berbuat apapun! Aku mohon kau mengerti Kenan!"
"Mengerti? Bagian mana yang harus aku mengerti? Bagian dimana mereka akan membunuh Elia atau apa?!"
"Tenanglah Kenan, tenang, kumohon! Kau harus tenang, kita harus tenang! Kita tidak bisa terus panik!"
"Oh, kau bedebah gila! Ronan, dia anakmu! Dia anak kita! Dan kau menyuruhku untuk tenang sementara ada yang berniat membunuhnya?!"
"Dengar... Kenan... aku hanya... Ah,pergilah ke kamarmu sekarang Kenan! Tenangkan dirimu!"
"Tidak, kumohon padamu Ronan! Jangan lakukan ini, sayang... Kumohon! Selamatkan anak kita!"

         Ronan tak menoleh dan terus menatap perapian. Kenan tahu akan percuma untuk tetap disini dan berusaha meyakinkan Ronan. Dia bergegas keluar dan pergi menuju kamar Elia, putri kecilnya. Ia berlari secepat yang ia mampu, tak peduli nafasnya memburu. Ia hanya ingin melihat Elia saat ini dan memeluknya dengan erat, melindungi putrinya dari apapun yang coba menyakiti Elia. Deru langkahnya terhenti di depan pintu kayu coklat di hadapannya. Kenan merengkuh pintu itu dan membukanya dengan halus. Diujung kamar, Elia anaknya terbaring dalam balutan selimut hangat yang Kenan rajut khusus untuknya. Rasa haru merebak, setetes air mata terjatuh di pipinya. Kenan terisak- pelan tak bersuara- tak ingin membangunkan putri kecilnya. Sementara di ruang tamu rumah itu, Ronan dengan gusar duduk di dekat perapian. Tangan Ronan gemetar menggenggam erat kalung di lehernya, dengan kasar menyentaknya lepas.

"Aku juga tak ingin ia mengambil putri kita, Kenan sayangku."
"Aku mencintainya bahkan  melebihi aku mencintaimu! Tapi apa yang bisa kuperbuat? Melangkah keluar dari bayangnya saja aku tak mampu!"
"Maafkan aku, Kenan sayangku. Maafkan ayah, Elia buah hatiku. Aku harus melakukannya!"

        Kenan tertidur sesaat disamping tubuh putrinya. Ia terbangun ketika merasakan sentuhan angin di pipinya. Di luar hujan, jendela kamar putrinya terbuka, mungkin karena hempasan angin. Selimut hangatnya sedikit tersibak, sementara Elia masih hanyut dalam mimpi. Sesekali Elia tergelak dan tersenyum dalam tidurnya. Membuat Kenan mau tak mau tersenyum memandangnya. Ah, hatinya kembali mencelos. Seandainya saat itu ia tahu bahwa Ronan adalah seorang retyn sebelum mereka menikah. Tentu ia takkan membiarkan dirinya jatuh cinta pada Ronan. Ia akan menyangkal cintanya pada Ronan. Seseorang seperti dirinya tidak boleh memiliki keturunan dengan seorang retyn. Seorang demigod sepertinya, akan sangat berbahaya untuk memiliki keturunan dengan seorang retyn. Karena Kenan tahu bahwa cepat atau lambat nyawa putrinya akan terancam.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

        Dulu ketika bumi masihlah sangat muda, kaum mortal berperang satu sama lain untuk memperebutkan hak atas kekuasaan mereka di bumi. Manusia belumlah sebanyak saat ini. Doa dan penyembahan manusia pada para Dewa dahulu masihlah semurni embun surga dan merupakan sumber kekuatan luar biasa bagi mereka. Doa murni seorang manusia yang tulus bisa menggetarkan surga dan neraka. Itulah kenapa saat itu bumi dan manusia menjadi rebutan bagi kaum mortal. Para Dewa yang menginginkan sumber kekuatan dan para Demon yang tak ingin musuhnya menjadi semakin kuat. Hal seperti itu yang kemudian membuat mereka sering menyaru ke bumi dalam bentuk manusia. Para Dewa demi mencari dan memupuk kepercayaan manusia, para Demon demi berusaha menyesatkan manusia agar mereka tidak lagi berdoa atau melakukan penyembah sehingga melemahkan kekuatan para Dewa.

       Saat menyaru menjadi manusia, terkadang masing masing mereka jatuh cinta dan memiliki keturunan dengan kaum immortal (manusia). Ras retyn adalah sebutan untuk keturunan langka perpaduan Demon dan manusia, sementara demigod adalah sebutan bagi keturunan Dewa. Kaum retyn dan demigod sering disebut sebagai darah kotor karena kaum mereka tidak seperti manusia, Demon, dan Dewa pada umumnya. Kaum mereka berbeda, mereka dilahirkan dengan membawa kekuatan para mortal dan kebebasan para immortal. Apabila Demon dan Dewa memiliki bau atau aroma yang khas saat mereka melintas atau berada di suatu tempat, sebaliknya kaum darah kotor tidak pernah memiliki bau atau mengeluarkan aroma apapun dari tubuhnya. Pun seorang Demon tidak bisa memasuki surga tanpa hancur berkeping keping karena cahaya surganya atau seorang Dewa memasuki Neraka tanpa hangus menjadi abu karena api kegelapannya. Sementara kaum darah kotor mampu memasuki surga dan neraka tanpa terluka sedikitpun. Mereka licin, tidak terdeteksi, dan kuat. Kaum mortal mulai gelisah.

       Mulai menjadi momok bagi surga dan neraka atas kekuatan dan kebebasan yang mereka miliki, kaum darah kotor mulai diburu. Seorang Retyn yang merupakan keturunan Demon biasanya akan ditarik ke dunia bawah (neraka) untuk dijadikan ksatria Demon. Begitupun para demigod yang merupakan keturunan Dewa akan ditarik ke langit untuk menjadi tentara para Dewa. Karena kaum darah kotor tidak bisa begitu saja terjadi hanya dengan menggauli manusia. Tidak semua manusia mampu untuk mengandung anak dengan kekuatan para mortal di perutnya. Banyak diantara mereka meninggal dan gagal melahirkan keturunan. Hanya beberapa saja yang bertakdir untuk bisa memiliki keturunan dari para mortal dan selamat dalam melahirkan anak mereka. Oleh karena itulah kaum darah kotor adalah ras yang sangat langka dan berharga.

       Karena kaum darah kotor masih memiliki unsur sifat kebebasan manusia di dalam diri mereka, tak jarang pula diantara mereka yang melakukan pemberontakan. Mereka menolak mengabdi pada surga maupun neraka. Mereka memilih untuk hidup bebas di bumi. Yang tentu saja di tentang oleh kaum surga dan neraka. Saat itulah para pemberontak mulai diburu dan dibantai. Ras darah kotor semakin berkurang di bumi dengan adanya pembantaian itu. Hanya mereka yang benar benar bisa menyembunyikan kekuatan mereka dan hidup sebagai manusia normal saja yang berhasil selamat dan tak terdeteksi. Ronan dan Kenan adalah salah satunya.

      Ronan adalah seorang retyn yang berhasil kabur dari pembantaian Demon di desanya 15 tahun yang lalu. Ia masihlah sangat muda ketika ibunya menyembunyikannya di dalam tumpukan gandum ketika terjadi pembantaian para pemberontak. Usianya 14 ketika  Ibunya yang manusia biasa dibunuh, sementara ayah demonicnya dipenggal karena berusaha menyembunyikan Ronan. Ronan remaja kemudian pergi bersembunyi di hutan dan hidup sendiri mulai saat itu. Ia tinggal di gua dan sering berpindah tempat demi menyembunyikan jati dirinya. Ketika pembantaian mulai mereda, Ronan baru berani untuk memasuki desa desa dan mulai bekerja serabutan. Ia berhasil menyembunyikan jati dirinya sampai ketika masa dimana ia bertemu Kenan. Gadis itu anak seorang penggembala yang hidup terpencil di padang padang luas di luar desa. Ronan bertemu dengannya saat Kenan datang ke desa untuk menjual susu dan wol. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Ronan sering menemuinya di anak sungai sebelah barat desa. Tempat biasanya Kenan mengambil air untuk minum hewan hewan gembalanya.

       Mereka menikah saat Ronan berusia 25 tahun dan Kenan 23 tahun. Mereka saling mencintai satu sama lain sampai dimana Kenan akhirnya mengetahui jati diri Ronan yang seorang Retyn. Hari dimana Kenan sedang membawa air panas untuk bak mandi Ronan ketika ia tersandung kursi dan menyiram wajah Ronan. Kenan sudah berteriak panik ketika dilihatnya Ronan hanya mengibaskan wajahnya dengan santai. Ronan tak terluka dan seakan tak sadar bahwa air yang menyiramnya adalah air panas. Ronan bahkan sempat bertanya pada Kenan apa kakinya baik baik saja. Kenan tahu Ronan bukan manusia biasa saat itu juga. Mereka mengalami pencobaan besar dalam hubungan mereka saat akhirnya mereka mengakui sosoknya masing masing. 

       Ronan akhirnya mengakui dirinya yang seorang retyn dan secara mengejutkan Kenan pun mengakui jati dirinya yang seorang demigod. Mereka sempat menghindar dari masing masing selama beberapa bulan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk tetap bersama dan menyembunyikan identitas mereka dari orang orang desa. Mereka hidup bahagia dan damai, Kenan bahkan sedang mengandung anak mereka yang pertama. Kebahagiaan mereka terasa penuh. Sampai hari dimana Kenan melahirkan anak pertama mereka.

       Hari masih siang ketika Kenan merasakan kontraksi di perutnya. Mangkuk kayu di tangannya terjatuh saat serangan kontraksi kedua menyerang perutnya. Kenan mengerang, ia tertatih menuju kursi terdekat. Sementara Ronan sedang membelah kayu di samping rumah, menumpuknya dan menata persiapan kayu bakar untuk musim dingin. Ronan masih sibuk menata kayu kayu yang terbelah di gudang rumahnya. Ia masih menumpuk beberapa ikat kayu lagi ketika ia mendengar suara panik Kenan memanggilnya. Ronan tertegun, ia berlari masuk ke dalah rumah mencari istrinya. Menemukan Kenan di dapur dengan wajah kesakitan Ronan tahu ini saatnya Kenan melahirkan. Ronan memapah istrinya menuju kamar mereka dan hendak segera pergi memanggil bantuan saat Kenan melarangnya.

        Bayi merah itu ada di tangan ayahnya dan dibungkus kain hangat. Bayi itu tenang, tidak menangis seperti bayi bayi lainnya. Ronan sedikit meremang, ia tahu ada yang aneh dengan anaknya. Kenan masih lemas setelah perjuangannya seorang diri melahirkan Elia. Ia tersenyum memandang Ronan yang sedang menimang putrinya. Bayi mungil itu begitu tenang di pelukan Ronan. Sebelum Kenan sempat memanggil Ronan, ia jatuh tertidur. Sementara Ronan yang melihat istrinya tertidur, ia menggendong bayinya keluar kamar. Sambil menimang bayi ditangannya, ia tersenyum bahagia.

        Ronan terus menimang putrinya hingga akhirnya ia kembali ke kamar dan berusaha meletakkan Elia di samping istrinya. Bayi itu menangis, mendadak dan tidak terduga. Ronan terkejut, bahkan Kenan terbangun karenanya. Tangisannya membuat kaki Ronan lemas, membuatnya jatuh terduduk di lantai kamar. Sementara Kenan sendiri merasa jantungnya seperti di remas, ia kehilangan napas, berusaha menggapai udara. Tangisan Elia membuat kedua orangtuanya tak berdaya. Tangisannya seperti menyerap kekuatan dari tubuh orangtuanya. Sementara itu, surga dan neraka mendadak di guncang gempa dahsyat. Keduanya porak poranda akibat guncangannya. Kaum mortal terkejut dengan hal ini, mereka ketakutan. Seperti baru saja menyadari bahwa ada kesalahan yang sudah mereka lewatkan.

       Dunia neraka dan surga mendadak terguncang, kabar akan kelahiran seorang Hellingr membuat mereka panik. Para Dewa dan Demon saling bertengkar di surga dan neraka. Mereka sibuk mencari tahu kebenaran akan kelahiran seorang Hellingr. Ya, hanya kekuatan seorang Hellingr saja yang mampu membuat dunia sekelas surga dan neraka porak poranda. Sementara para mortal sibuk mencari kebenaran, tangisan Elia berhenti. Ronan mendapatkan kekuatannya kembali dan menghampiri Elia. Sementara Kenan mendapatkan nafasnya kembali, jantungnya berdetak normal lagi. Ronan dan Kenan saling bertatapan, ketika gelenyar rasa dingin menghampiri mereka. Mereka akhirnya menyadari sesuatu. Mereka menyadari sesuatu.

       Elia, anak itu diam dan tak lagi menangis. Ia bahkan kini tertawa dan tersenyum kecil. Kenan meremang, ia mulai khawatir sedangkan Ronan sibuk mondar mandir di hadapannya. Apabila Kenan mulai khawatir, Ronan apalagi. Mereka sadar bahwa anak mereka seorang Hellingr, anak seorang retyn dan demigod, percampuran darah yang paling ditakuti surga dan neraka. Keturunan yang memiliki kekuatan surga dan neraka di masing masing tangannya. Keturunan yang menjadi sumber ketakutan terbesar kaum mortal. Anak retyn dan demigod yang disebut "The Hellingr", sang Pembawa Takdir. Anak yang memegang kekuatan untuk merubah takdir dunia. Hellingr kedua yang terlahir di bumi. Sekaligus satu satunya Hellingr yang masih hidup.

Kemanakah takdir akan membawa anak ini? Pada surga atau neraka?
Akankah Elia mampu bertahan di dunia ini hingga umur kebangkitannya?
Atau kemanakah ia akan berakhir? Jurang kematian atau sebuah petualangan yang tak terduga?


to be continued...

Sabtu, 31 Januari 2015

The Hellingr (Masa Lalu)

Elia menemukan sebuah botol kaca bening berisi cairan berwarna coklat terang di salah satu rak tersembunyi di rumahnya. Ia menemukan botol itu tanpa sengaja ketika Elia menabrak lemari buku tua di pojok ruang baca rumahnya. Secarik kertas ikut terangkat ketika ia mengambil botol itu dari rak. Sedang di permukaan kacanya terdapat cetakan timbul berwarna hitam yang menyerupai tulisan tangan latin. Tertutup debu dan tampak kabur. 


" Cairan apa ini? Kenapa disembunyikan? Lalu apa arti kata di atasnya?"
" Apa ini sebuah kata kata? Hurufnya aneh, tapi entah mengapa begitu familiar."

Sambil menimang botol kaca di tangannya, Elia menjauh dari rak dan menuju ke kursi bersandaran lengan di belakangnya. Menarik nafas dan berhasil menghembuskannya lagi saat pantatnya mendarat nyaman di kursi. Sambil terus mengamati botol di tangannya, mata Elia menerawang jauh. Kilatan di matanya menampilkan ingatan kejadian tadi siang. Pertengkarannya dengan Ayah dan teriakan Ibu menggema di kupingnya. Hatinya terasa panas, kepalanya sakit dan tanpa sadar membuat Elia mengepalkan tangan. Hari ini tepat di ulang tahunnya yang ke 16. Seharusnya ini menjadi hari paling spesial dan istimewa baginya. Hari ini adalah hari dimana takdir yang telah mengikat Elia 16 tahun sebelumnya terpilin dan menariknya tepat pada waktunya. Memaksanya untuk kembali.




Lamunannya buyar ketika ujung kertas di genggaman menusuk kulit. Ah, hatinya tercubit. Tusukan kertas di tangan Elia menyelamatkannya dari sisa amarah siang ini. Sadar akan keadaan itu, Elia menghela napas berat dan segera mengalihkan pikirannya sambil membuka lipatan kertas. Pupil matanya melebar ketika ia membaca kalimat yang tertulis di kertas lusuh itu.


Waktu adalah awal. Waktu adalah akhir.
Waktu adalah pertanyaan. Waktu adalah Jawaban.
Minumlah dan Temukan Sang waktu. Tanyakan padanya semua pertanyaanmu maka ia akan menjawabnya. Tapi ingatlah, setiap jawaban memiliki harganya masing-masing.

" Apa maksudnya ini? Temukan sang waktu? Hal konyol macam apa yang ditulis disini?"
" Memangnya waktu bisa bicara? Apabila waktu bisa bicara, ia pasti sudah mengatakan padaku di mana kedua orangtua kandungku? kenapa mereka tega membuangku?"
"Apa keberadaanku tidak berharga bagi mereka?!" Teriak Elia histeris.

Air mata berkilau di sudut mata birunya. Ada semburat rasa sedih dan pahit terlukis di sana. Hubungannya dengan Ayah dan Ibu yang kian renggang sejak mereka memberitahu Elia tentang statusnya yang hanyalah anak angkat. Puluhan pertanyaan muntah begitu saja di otaknya. Tentang Ibu kandungnya yang mencampakkan Elia di depan pintu rumah orangtua angkatnya 16 tahun yang lalu. Tentang alasan Ayah dan Ibu merahasiakan semua ini darinya. Semua benang pemikiran Elia kian bertumpuk dan menjadi kusut. Membuatnya berpikir bahwa mungkin inilah alasan kenapa sejak dulu Ibu selalu membencinya. 




Rasa sakit muncul dalam hatinya seperti bibit semak berduri yang dipupuk subur. Jalaran aura hitam menutup sinar cerah di matanya. Tangannya mengepal keras. Sensasi dingin menghampiri punggung Elia ketika ia menatap botol kaca di tangannya. Ada gelenyar aneh yang membuatnya kembali membuka lipatan kertas yang baru ia baca. Ada rasa keingintahuan kuat yang menyerang di hatinya. Sebuah ide dan gagasan gila mendadak muncul di kepalanya. Kehausan akan pencarian jati diri dan kebenaran membuat Elia sekali lagi membaca tulisan di kertas itu. Namun kali ini dengan tekad dan niat yang mengejutkan.



Waktu adalah awal. Waktu adalah akhir.
Waktu adalah pertanyaan. Waktu adalah Jawaban.
Minumlah dan Temukan Sang waktu. Tanyakan padanya semua pertanyaanmu maka ia akan menjawabnya. Tapi ingatlah, setiap jawaban memiliki harganya masing-masing.

Dengan kecepatan yang mengejutkan dirinya sendiri, Elia membuka sumbat botol dan menenggak cairan di dalamnya. Aroma hutan pinus menyeruak masuk ke hidungnya. Ada sisa rasa pahit di ujung tenggorokan yang tidak begitu ia pedulikan. Elia masih terkejut dengan tindakan spontannya barusan. Elia tak menyangka bahwa ia akan berbuat senekat itu. Meminum ramuan aneh yang bahkan Elia sendiri tidak tahu apakah aman atau tidak. Yang ia pikirkan saat itu hanyalah wajah sedih ayahnya dan semburat kebahagiaan sinis di muka Ibunya siang tadi. 




Elia masih duduk terpaku di kursinya. Menenangkan hatinya sambil mencari cari perubahan kecil yang mungkin terjadi setelah ia meminum ramuan itu. Kegelisahannya membuncah ketika sepuluh menit kemudian tak satupun perubahan terjadi.


" Sebaiknya cairan ini bekerja, atau aku akan benar benar muntah sekarang" 
" Semoga cairan ini bukan hasil kejahilan atau lebih buruk lagi adalah racun yang disembunyikan seseorang karena aku akan sangat marah bila. . . "

Tersedak, perutnya bergejolak tepat sebelum Elia menyelesaikan umpatannya. Sesuatu terasa membakar lambungnya. Merambat naik ke tenggorokan dan menyebar ke paru parunya. Elia tercekat, susah bernafas. Udara di sekelilingnya memadat. Elia terjatuh dari kursi dan menghantam marmer dingin. Giginya gemertak menahan sakit yang ia rasakan. Elia menggapai udara di sekelilingnya dan berharap mereka mencair masuk ke paru parunya.

Waktu terasa begitu lambat. Suaranya tidak mencapai udara, tercekat di ujung tenggorokan. Elia menendang kursi, berusaha meronta dari cekikan hampa di tenggorokannya. Botol kaca kosong di tangannya menggelinding ke bawah jendela. Sinar matahari membuat kilauan cantik di permukaannya. Elia berusaha bangkit ketika tanpa sengaja ia membaca relief tulisan di permukaan botol itu. Samar samar sebentuk ingatan muncul di otaknya. Menyengatnya seperti ribuan lebah yang terusik.




Merasa dirinya takkan selamat, Elia mulai menangis. Pandangannya buram terhalang ruahan air mata. Dengan cepat semua hal berkelebat di pikirannya. Tentang semua pertengkarannya dengan Ayah dan Ibu siang ini. Tentang ciuman pertamanya dengan Jest di taman belakang sekolah. Tentang perayaan ulang tahunnya yang ke 10 di kapal mewah Ayahnya. Tentang pelukan hangat Ayah saat ia menangis. Tentang Ibu yang selalu marah apabila Azrael kecil menumpahkan susu di bajunya. Tentang Ayah yang menggendongnya masuk di tengah malam berhujan badai. Tentang sosok wajah buram yang menangis sambil menggendongnya. Dan bisikan suara wanita yang terasa begitu hangat dan familiar di kupingnya.

"Maafkan Ibu, Elia. Maafkan Ibu, sayang!"
"Jadilah anak baik dan tunggu Ibu datang! Ibu akan datang!"

"Di usiamu yang ke 16 ibu akan datang menjemputmu nak."
"Kalung ini akan menjagamu, mereka takkan bisa melacakmu Elia."
Kilatan aneh berwarna ungu muncul, letupan dan kilat kecil terasa begitu nyata di matanya. Dan sebelum kesadarannya lenyap, Elia melihat samar wajah Ibunya. Wajah ibu kandungnya.




---------------------------------------------------------------------------------------------
to be continued. . .