Sabtu, 31 Januari 2015

The Hellingr (Masa Lalu)

Elia menemukan sebuah botol kaca bening berisi cairan berwarna coklat terang di salah satu rak tersembunyi di rumahnya. Ia menemukan botol itu tanpa sengaja ketika Elia menabrak lemari buku tua di pojok ruang baca rumahnya. Secarik kertas ikut terangkat ketika ia mengambil botol itu dari rak. Sedang di permukaan kacanya terdapat cetakan timbul berwarna hitam yang menyerupai tulisan tangan latin. Tertutup debu dan tampak kabur. 


" Cairan apa ini? Kenapa disembunyikan? Lalu apa arti kata di atasnya?"
" Apa ini sebuah kata kata? Hurufnya aneh, tapi entah mengapa begitu familiar."

Sambil menimang botol kaca di tangannya, Elia menjauh dari rak dan menuju ke kursi bersandaran lengan di belakangnya. Menarik nafas dan berhasil menghembuskannya lagi saat pantatnya mendarat nyaman di kursi. Sambil terus mengamati botol di tangannya, mata Elia menerawang jauh. Kilatan di matanya menampilkan ingatan kejadian tadi siang. Pertengkarannya dengan Ayah dan teriakan Ibu menggema di kupingnya. Hatinya terasa panas, kepalanya sakit dan tanpa sadar membuat Elia mengepalkan tangan. Hari ini tepat di ulang tahunnya yang ke 16. Seharusnya ini menjadi hari paling spesial dan istimewa baginya. Hari ini adalah hari dimana takdir yang telah mengikat Elia 16 tahun sebelumnya terpilin dan menariknya tepat pada waktunya. Memaksanya untuk kembali.




Lamunannya buyar ketika ujung kertas di genggaman menusuk kulit. Ah, hatinya tercubit. Tusukan kertas di tangan Elia menyelamatkannya dari sisa amarah siang ini. Sadar akan keadaan itu, Elia menghela napas berat dan segera mengalihkan pikirannya sambil membuka lipatan kertas. Pupil matanya melebar ketika ia membaca kalimat yang tertulis di kertas lusuh itu.


Waktu adalah awal. Waktu adalah akhir.
Waktu adalah pertanyaan. Waktu adalah Jawaban.
Minumlah dan Temukan Sang waktu. Tanyakan padanya semua pertanyaanmu maka ia akan menjawabnya. Tapi ingatlah, setiap jawaban memiliki harganya masing-masing.

" Apa maksudnya ini? Temukan sang waktu? Hal konyol macam apa yang ditulis disini?"
" Memangnya waktu bisa bicara? Apabila waktu bisa bicara, ia pasti sudah mengatakan padaku di mana kedua orangtua kandungku? kenapa mereka tega membuangku?"
"Apa keberadaanku tidak berharga bagi mereka?!" Teriak Elia histeris.

Air mata berkilau di sudut mata birunya. Ada semburat rasa sedih dan pahit terlukis di sana. Hubungannya dengan Ayah dan Ibu yang kian renggang sejak mereka memberitahu Elia tentang statusnya yang hanyalah anak angkat. Puluhan pertanyaan muntah begitu saja di otaknya. Tentang Ibu kandungnya yang mencampakkan Elia di depan pintu rumah orangtua angkatnya 16 tahun yang lalu. Tentang alasan Ayah dan Ibu merahasiakan semua ini darinya. Semua benang pemikiran Elia kian bertumpuk dan menjadi kusut. Membuatnya berpikir bahwa mungkin inilah alasan kenapa sejak dulu Ibu selalu membencinya. 




Rasa sakit muncul dalam hatinya seperti bibit semak berduri yang dipupuk subur. Jalaran aura hitam menutup sinar cerah di matanya. Tangannya mengepal keras. Sensasi dingin menghampiri punggung Elia ketika ia menatap botol kaca di tangannya. Ada gelenyar aneh yang membuatnya kembali membuka lipatan kertas yang baru ia baca. Ada rasa keingintahuan kuat yang menyerang di hatinya. Sebuah ide dan gagasan gila mendadak muncul di kepalanya. Kehausan akan pencarian jati diri dan kebenaran membuat Elia sekali lagi membaca tulisan di kertas itu. Namun kali ini dengan tekad dan niat yang mengejutkan.



Waktu adalah awal. Waktu adalah akhir.
Waktu adalah pertanyaan. Waktu adalah Jawaban.
Minumlah dan Temukan Sang waktu. Tanyakan padanya semua pertanyaanmu maka ia akan menjawabnya. Tapi ingatlah, setiap jawaban memiliki harganya masing-masing.

Dengan kecepatan yang mengejutkan dirinya sendiri, Elia membuka sumbat botol dan menenggak cairan di dalamnya. Aroma hutan pinus menyeruak masuk ke hidungnya. Ada sisa rasa pahit di ujung tenggorokan yang tidak begitu ia pedulikan. Elia masih terkejut dengan tindakan spontannya barusan. Elia tak menyangka bahwa ia akan berbuat senekat itu. Meminum ramuan aneh yang bahkan Elia sendiri tidak tahu apakah aman atau tidak. Yang ia pikirkan saat itu hanyalah wajah sedih ayahnya dan semburat kebahagiaan sinis di muka Ibunya siang tadi. 




Elia masih duduk terpaku di kursinya. Menenangkan hatinya sambil mencari cari perubahan kecil yang mungkin terjadi setelah ia meminum ramuan itu. Kegelisahannya membuncah ketika sepuluh menit kemudian tak satupun perubahan terjadi.


" Sebaiknya cairan ini bekerja, atau aku akan benar benar muntah sekarang" 
" Semoga cairan ini bukan hasil kejahilan atau lebih buruk lagi adalah racun yang disembunyikan seseorang karena aku akan sangat marah bila. . . "

Tersedak, perutnya bergejolak tepat sebelum Elia menyelesaikan umpatannya. Sesuatu terasa membakar lambungnya. Merambat naik ke tenggorokan dan menyebar ke paru parunya. Elia tercekat, susah bernafas. Udara di sekelilingnya memadat. Elia terjatuh dari kursi dan menghantam marmer dingin. Giginya gemertak menahan sakit yang ia rasakan. Elia menggapai udara di sekelilingnya dan berharap mereka mencair masuk ke paru parunya.

Waktu terasa begitu lambat. Suaranya tidak mencapai udara, tercekat di ujung tenggorokan. Elia menendang kursi, berusaha meronta dari cekikan hampa di tenggorokannya. Botol kaca kosong di tangannya menggelinding ke bawah jendela. Sinar matahari membuat kilauan cantik di permukaannya. Elia berusaha bangkit ketika tanpa sengaja ia membaca relief tulisan di permukaan botol itu. Samar samar sebentuk ingatan muncul di otaknya. Menyengatnya seperti ribuan lebah yang terusik.




Merasa dirinya takkan selamat, Elia mulai menangis. Pandangannya buram terhalang ruahan air mata. Dengan cepat semua hal berkelebat di pikirannya. Tentang semua pertengkarannya dengan Ayah dan Ibu siang ini. Tentang ciuman pertamanya dengan Jest di taman belakang sekolah. Tentang perayaan ulang tahunnya yang ke 10 di kapal mewah Ayahnya. Tentang pelukan hangat Ayah saat ia menangis. Tentang Ibu yang selalu marah apabila Azrael kecil menumpahkan susu di bajunya. Tentang Ayah yang menggendongnya masuk di tengah malam berhujan badai. Tentang sosok wajah buram yang menangis sambil menggendongnya. Dan bisikan suara wanita yang terasa begitu hangat dan familiar di kupingnya.

"Maafkan Ibu, Elia. Maafkan Ibu, sayang!"
"Jadilah anak baik dan tunggu Ibu datang! Ibu akan datang!"

"Di usiamu yang ke 16 ibu akan datang menjemputmu nak."
"Kalung ini akan menjagamu, mereka takkan bisa melacakmu Elia."
Kilatan aneh berwarna ungu muncul, letupan dan kilat kecil terasa begitu nyata di matanya. Dan sebelum kesadarannya lenyap, Elia melihat samar wajah Ibunya. Wajah ibu kandungnya.




---------------------------------------------------------------------------------------------
to be continued. . .








Tidak ada komentar:

Posting Komentar